“Makhluk Halus”, Menerka Asal Mereka dari
Sudut Pandang Fisika
Salah satu adik saya pernah bercerita kalau dulu pernah
melihat sosok pocong yang berdiri di depan sebuah rumah kosong. Ceritanya waktu
itu menjelang maghrib, adik saya membonceng saudara sepupu kami naik sepeda
motor. Mereka berkeliling desa naik motor dan tiba-tiba saja matahari sudah
turun. Tempat tinggal saudara sepupu kami adalah sebuah desa di sebuah
perbukitan yang penuh dengan pepohonan tinggi. Karena banyak pepohonan, suasana
desa teduh cenderung temaram terlindung dari terpaan sinar matahari. Kelembaban
udaranya rasanya cukup tinggi, mungkin 90an persen.
Oleh karena itu, lumut tumbuh subur di sejumlah dinding
rumah warga. Ada rumah yang lama roboh dan tidak dibangun kembali, puing-puingnya
juga dipenuhi dengan lumut. Jalan desa waktu itu jalan tanah tetapi cukup kuat
digilas ban sepeda motor. Sekarang jalan desa sudah berubah, sudah dipasang
batu paving atau dicor, saya kurang ingat pasti. Kalau di desa, kadang celah
antara dua rumah bisa menjadi jalan pintas. Karena sepupu kami sudah lama
tinggal di desa tersebut. Jadi ia hafal jalan-jalan, termasuk jalan-jalan kecil
di desanya.
Ketika mereka pulang dari berkeliling desa di suatu
senja, mereka melewati jalan dimana terdapat sebuah rumah kosong yang gelap.
Adik saya yang duduk di jok belakang melihat sesuatu di bagian depan sebuah
rumah kosong itu: sesosok pocong sedang berdiri diam. Sontak ia ketakutan dan
meminta sepupu kami mempercepat laju sepeda motor. Karena kaget yang bercampur
takut, adik saya tidak bisa melihat bagian wajah pocong dengan jelas. Apalagi
waktu itu senja telah datang. Ngeri juga ketika ia menceritakan pengalamannya,
membuat bulu kuduk berdiri.
***
Pada sebuah kesempatan,
saya bertemu dengan salah seorang kerabat. Kami mengobrol tentang banyak hal.
Entah bagaimana awalnya, obrolan kami yang tadinya berawal dari dunia musik dan
film jadi merembet ke topik tentang "alam makhluk halus". Tetapi kami
tidak melihat dari sudut pandang mistik. Ia pernah tercebur di dunia fisika murni, dimana
salah satu wawasan yang ia serap adalah tentang dunia yang memiliki
lapisan-lapisan yang disebut dimensi. Ada dimensi nol, dimensi pertama, dimensi
kedua, ketiga dan seterusnya hingga dimensi kesembilan.
Dimensi nol adalah sebuah titik. Dimensi pertama adalah
kumpulan titik yang bisa kita sebut garis. Dimensi kedua adalah bidang. Dimensi
ketiga konsepnya adalah panjang, lebar dan tinggi yang disebut ruang. Dimensi
ini adalah dunia kita. Dimensi keempat adalah dunia dimensi ketiga ditambah waktu,
dan seterusnya. Setiap tingkatan dimensi adalah adalah gabungan
"spesifikasi" dimensi-dimensi di bawahnya ditambah "spesifikasi
khusus" setiap tingkatan dimensi. Bila berbicara tentang keluasan dunia,
dimensi keempat lebih luas dari pada dimensi ketiga, juga dimensi kelima lebih
luas dari pada dimensi keempat, dan seterusnya.
Setelah dimensi kesembilan, yang merupakan dimensi puncak
adalah tempat dimana sang penguasa dimensi-dimensi bersemayam. Pembicaraan kami
pun terkait ke ranah religi, dimana dugaan yang terlontar di benak saya adalah
bahwa itu adalah alam Tuhan, sang penguasa segalanya: titik, garis, bidang,
ruang, waktu, materi, energi... Saya jadi ingat dulu pernah membaca sebuah
artikel tentang multiverse atau multiple
universe yang secara sederhana diartikan sebagai kumpulan universe, kumpulan alam semesta atau
dunia. Jadi Bumi yang kita tinggali ini sebenarnya ibarat sebutir debu dari
hamparan alam semesta multiverse yang
luar biasa besarnya.
Pemikiran sederhana saya menerawang, dalam konteks
dimensi dimana semakin tinggi tingkat dimensi, maka alam semestanya semakin
luas, maka bagaimana jika itu digabungkan dengan pemahaman dunia multiverse? Luas alam semesta ini pasti tak
terkira. mungkin tidak dapat dijangkau oleh pikiran manusia. Setelah
pembicaraan itu, saya merenung bahwa kehidupan kita di dunia yang kecil ini
hanyalah terbatas pada realita fisik. Dalam dimensi ketiga, setiap benda
terekspos secara fisikal. Kita melihat makhluk hidup maupun benda-benda lainnya
dan dapat kita rasakan dengan panca indera kita. Dunia dimensi keempat dan
seterusnya berada di luar jangkauan manusia.
Tetapi mungkin saja pada saatnya nanti manusia bisa
melintasinya. Kalau itu memungkinkan, bagaimana kira-kira konsep melintasi
dimensi-dimensi itu? Kalau menurut kerabat saya, mekanika kuantum mungkin bisa
mengungkap semua ini. Iseng-iseng saya menelusurinya di internet. Albert
Einstein bersama Boris Podolsky dan Nathan Rose pernah menulis makalah tentang
"Einstein - Podolsky - Rose Paradox" atau "EPR Paradox"
yang memaparkan tentang mekanika kuantum, termasuk adanya wormholes atau lubang cacing untuk
melintasi alam satu ke alam lainnya. Sejauh ini itu masih berupa teori,
sebagaimana teori M tentang multiverse atau
teori string. Tetapi pikiran liar
saya malah memandang peristiwa kematian sebagai suatu jalan untuk melintasi
ruang dan waktu, materi dan energi, dan seterusnya. Religi mengatakan bahwa
semua yang mati akan kembali ke alam Sang Pencipta. Saya memandang bahwa
kematian adalah layu jasad semata, tetapi tidak bagi jiwa. Jiwa akan melanglang
melintas dunia baru, entah bersemayam di sana dengan jasad baru atau hanya
sebentuk cahaya yang melayang-layang bersama debu?
***
Alam memang agung sekaligus
misterius. Kata orang pintar, ada alam lain di luar alam manusia. Itulah yang
disebut dengan alam "makhluk halus" atau alam lelembut. Alam itu
eksis dan berdampingan dengan alam fisik dimensi ketiga yang kita diami
sekarang ini. Kata orang pintar, perlu indera keenam untuk merasakan eksistensi
dunia lain itu. Tidak semua orang bisa melihatnya, kecuali mereka yang
diberkahi atau gifted. Sayangnya,
realita dunia tersebut juga tidak dapat dibuktikan eksistensinya. Kesaksian
seseorang tentang alam lain hampir pasti akan diragukan, bahkan mungkin
dianggap sebagai halusinasi.
Kerabat saya itu juga bercerita tentang seseorang yang
punya kemampuan "membuka penglihatan" manusia. Seorang kawannya
pernah dibukakan "penglihatannya" dan ia tercengang dengan apa yang
ia lihat. Sebuah alam yang sangat luas seakan tak berbatas. Sayangnya sang
kawan tidak bisa berkata-kata tentang apa yang ia lihat. Menurut kerabat saya,
mungkin kawannya diliputi rasa takjub yang luar biasa. Tetapi menurut saya, itu
bukan rasa takjub melainkan karena ia tidak mampu menjelaskannya atau
meninterpretasikannya dari sudut pandang manusia.
Kita sebagai manusia sudah memiliki interpretasi tentang
kehidupan yang terbentuk sedari kecil. Kita melihat wujud manusia lain, binatang,
tumbuhan, barang-barang adalah seperti itu. Nah, ketika melihat alam dimensi
lain itu, ia tidak mampu menjelaskan apa yang ia lihat dengan sudut pandang
duniawi. Makanya ia tidak dapat berkata-kata. Saya jadi ingat dengan
salah seorang sepupu saya yang bercerita tentang seorang ahli pijat tradisional
yang memiliki kemampuan serupa. Dengan pijatan di titik tertentu di bagian
tubuh, ia bisa membuat pasiennya melihat alam "makhluk halus". Wah,
bila saya salah satu kliennya, saya akan bilang "tidak, terima
kasih".
Kalau kita mengacu pada konsep dimensi dalam fisika,
entah bangsa lelembut ini berada di dimensi keberapa. Tetapi, kalau
"makhluk halus" itu memang eksis, mereka pasti hidup di dimensi yang
lebih tinggi dari pada dimensi kita saat ini. Menurut saya, karena mereka sudah
menguasai ruang dan waktu, maka mereka punya kemampuan melintasi dimensi
--dimensi di bawahnya. Mereka bisa menampakkan diri di depan makhluk hidup di
dimensi di bawahnya, dengan bentuk yang hanya bisa diinterpretasikan oleh makhluk
hidup di dimensi yang mereka tuju.
Karena manusia memiliki interpretasi terhadap semua hal
yang tertanam di otaknya berdasarkan pengalamannya, maka manusia memiliki
reaksi spontan ketika berjumpa dengan sosok dari dimensi lain ini. Medulla oblongata, bagian otak yang
mengontrol sebagian besar aktivitas fisik manusia pun seketika terdisrupsi. Ketika
melihat penampakan "makhluk halus", manusia sering berteriak, detak
jantung semakin cepat, nafas tersengal-sengal, tubuh berkeringat dan
sebagainya. Ada yang bisa lari menjauh dari lokasi penampakan, ada juga yang
kakinya
Contoh ketika adik saya melihat pocong, ia mendesak
sepupu kami untuk memacu motornya cepat-cepat. Waktu itu tekanan darahnya pasti
meningkat, nafasnya juga pasti tersengal-sengal. Reaksinya mungkin sama ketika
kita menonton trailer film
"The Nun" dalam format VR video 360 derajat menggunakan kacamata VR. Para
"makhluk halus" ini menunjukkan wujudnya dalam bentuk yang dapat
diinterpretasi oleh manusia. Namun, lebih jauh, pertanyaan berikutnya adalah
mengapa mereka meneror manusia dengan aktivitas penampakannya? So annoying begitu loh.. Tetapi saya
atau kita semua pasti tidak membutuhkan jawaban. karena kalau sampai ada yang
menjawab, kita semua pasti akan berteriak histeris dan berlari sejauh mungkin.
Hiii.. takuttt...
Tetapi di sisi lain, penampakan "makhluk halus"
itu menjadi komoditas manusia untuk mendapatkan keuntungan finansial. Apakah
itu? Yup betul, bisnis
hiburan. Termasuk dalam bisnis ini misalnya film horor, rumah hantu di taman
hiburan, acara televisi yang menguji keberanian, wisata horor dan sebagainya. Ngeri-ngeri
sedap, begitu kata almarhum salah satu politisi terkenal, sepertinya cocok
dikaitkan dengan bisnis hiburan yang mengeksploitasi "makhluk halus".
Bisnis ini mengeksploitasi "makhluk halus" yang merangsang kengerian
demi fulus yang sedap. (Apaan
sih?) Selamat
bekerja.. :)
Sumber:https://www.kompasiana.com/gatot_tri/5de6046ed541df0d480426c2/makhluk-halus-menerka-asal-mereka-dari-sudut-pandang-fisika lemas tiada daya untuk lari

No comments:
Post a Comment